Selasa, 08 Februari 2011

Rahasia dibalik Kata الحياء (Malu) dalam Bahasa Arab

Pembaca mulia, kata “malu” dalam bahasa Arab adalah الحياء /al-hayaa`/. Kata ini, merupakan derivat dari kata الحياة /al-hayaah/, yang artinya adalah “kehidupan”. Selain الحياء, contoh derivat lain kata الحياة adalah حيا /hayaa/, yang artinya hujan”. Apa kaitan antara hujan dan kehidupan? Kaitannya adalah bahwa hujan merupakan sumber kehidupan bagi bumi, tanaman, dan hewan ternak.
Dalam bahasa Arab, al-hayaah “kehidupan” mencakup kehidupan dunia dan akhirat.
Lalu, kembali ke pokok bahasan utama, apa kaitan al-hayaa` “malu” dengan al-hayaah “kehidupan”?
Jawabannya adalah karena orang yang tidak memiliki rasa malu, ia seperti mayat di dunia ini, dan ia benar-benar akan celaka di akhirat.
Orang yang tidak memiliki rasa malu, tidak merasa risih ketika bermaksiat.
Ketika ia mempertontonkan lekuk-lekuk tubuhnya dan memamerkan auratnya, ia tidak merasa bahwa itu adalah perbuatan yang menjijikkan….
Ketika ia berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya di tengah keramaian, ia tidak peduli dengan tatapan heran manusia…
Ketika ia melanggar setiap larangan Allah, ia anggap sebagai rutinitas, seolah-olah dia tidak merasa bahwa dirinya hina…
Benar, ia seperti mayat. Ya! apapun yang terjadi di sekitar mayat, tiada kan dapat mendatangkan manfaat baginya…
Maka, benarlah perkataan Ibnul Qayyim

ومن عقوباتها ذهاب الحياء الذي هو مادة الحياة للقلب وهو أصل كل خير وذهاب كل خير بأجمعه

Di antara dampak maksiat adalah menghilangkan MALU yang merupakan SUMBER KEHIDUPAN hati dan inti dari segala kebaikan. Hilangnya rasa malu, berarti hilangnya seluruh kebaikan.
(الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي, hal. 45)
Ini sebagaimana sabda Nabi

الحياء خير كله

/Al-hayaa` khairun kulluhu/
“Rasa malu seluruhnya adalah kebaikan”
(Shahih Muslim: 87)
Oleh karena itu, seseorang yang bermaksiat dan terus menerus melakukannya, dikatakan sebagai orang yang tidak tahu malu. Nabi bersabda

إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الاولى اذا لم تستح فاصنع ماشئت

“Sesungguhnya termasuk yang pertama diketahui manusia dari ucapan kenabian adalah jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu!”
(Shahih Bukhari: 5769)
Dalam menjelaskan maksud hadits di atas, Ibnul Qayyim berkata,

والمقصود ان الذنوب تضعف الحياء من العبد حتى ربما انسلخ منه بالكلية حتى ربما انه لايتأثر بعلم الناس بسوء حاله ولا باطلاعهم عليه بل كثير منهم يخبر عن حاله وقبح ما يفعله والحامل على ذلك انسلاخه من الحياء وإذا وصل العبد الى هذه الحالة لم يبق في صلاحه مطمع

Maksudnya, dosa-dosa akan melemahkan rasa malu seorang hamba, bahkan bisa menghilangkannya secara keseluruhan. Akibatnya, pelakunya tidak lagi terpengaruh atau merasa risih saat banyak orang mengetahui kondisi dan perilakunya yang buruk. Lebih parah lagi, banyak di antara mereka yang menceritakan keburukannya. Semua ini disebabkan hilangnya rasa malu. Jika seseorang sudah sampai pada kondisi tersebut, tidak dapat diharapkan lagi kebaikannya.(الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي, hal. 45)
Akhirnya, saya akhiri risalah ini dengan mengutip lagi perkataan Ibnul Qayyim

ومن استحي من الله عند معصيته استحى الله من عقوبته يوم يلقاه ومن لم يستح من الله تعالى من معصيته لم يستح الله من عقوبته

Barangsiapa malu terhadap Allah saat mendurhakaiNya, niscaya Allah akan malu menghukumnya pada hari pertemuan dengan-Nya.
Demikian pula, barangsiapa tidak malu mendurhakaiNya, niscaya Dia tidak malu untuk menghukumnya.
Referensi:
Kitabالجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي yang juga dikenal dengan nama الداء والدواء, karya محمد بن أبي بكر أيوب الزرعي أبو عبد الله (yang dikenal dengan nama Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah). Penerbit: دار الكتب العلمية – بيروت (via software المكتبة الشاملة).
Senin, 4 januari 2010
Seusai Shalat Shubuh di Masjid Al-Ashri
Abu Muhammad Al-‘Ashri
http://alashree.wordpress.com/2010/01/04/rahasia-malu-arab/
===============================
Lihat Pula Artikel Rahasia Bahasa Arab yang Lain:

Jumat, 04 Februari 2011

Campur Tangan AS Di Mesir Kian Terserlah

Campur Tangan AS Di Mesir Kian Terserlah

DOA BERSAMA SETELAH SHALAT

DOA BERSAMA SETELAH SHALAT

Oleh Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan
Minggu, 06 Mei 2007 - 00:04:28
Hit: 14949


Tanya: Saya menyaksikan sebagian orang-orang yang shalat berjamaah seusai mereka shalat, mereka berdoa dengan bersama-sama, setiap kali mereka selesai shalat, apa hal ini dibolehkan? Berilah kami fatwa semoga Anda mendapat balasan di sisi-Nya.

Jawab: Berdoa setelah shalat, tidak mengapa. Akan tetapi setiap orang berdoa sendiri-sendiri. Berdoa untuk dirinya dan saudaranya sesama ummat Islam. Berdoa untuk kebaikan agama dan dunianya, sendiri-sendiri bukan bersama-sama.
Adapun berdoa bersama-sama setelah shalat, ini adalah bid’ah. Karena tidak ada keterangannya dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, tidak dari shahabatnya dan tidak dari kurun-kurun yang utama bahwa dahulu mereka berdoa secara bersama-sama, dimana sang imam mengangkat kedua tangannya, kemudian para makmum mengangkat tangan-tangan mereka, sang imam berdoa dan para makmum juga berdoa bersama-sama dengan imam. Ini termasuk perkara bid’ah.
Adapun setiap orang berdoa tanpa mengeraskan suara atau membuat kebisingan hal ini tidaklah mengapa, apakah sesudah shalat wajib atau sunnah.

Sumber :
Majmu' Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al Fauzan (2/680)
http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=27

Diperbolehkan mengkopi artikel dengan menyertakan sumbernya.

Jumat, 28 Januari 2011

Surat Untuk Calon Isteriku..


Assalamualaykum..

Memakai Jam Tangan di Tangan Kanan atau Kiri? (Fatwa Syaikh Al-Utsaimin)


Pertanyaan:
“Ada hadits dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam yang menganjurkan untuk mendahulukan kanan dalam hal kebaikan, seperti masuk masjid, memakai sandal. Tetapi bagaimanakah jika yang kita pakai itu sesuatu yang tidak berpasangan seperti jam tangan?Manakah yang lebih utama, antara kanan dan kiri untuk jam tangan?”

Jawaban:
Ketika jam tangan muncul pertama kali dikenal, orang-orang memakainya di tangan sebelah kiri dengan maksud agar tidak ada sesuatu pun di tangan kanan yang akan mengganggu geraknya. Pada umumnya, gerakan tangan kanan lebih banyak daripada tangan kiri, sehingga orang-orang pun memakaianya di tangan kirinya supaya lebih leluasa untuk bergerak. Selain itu, kerana tangan kanan sering digunakan untuk beraktivitas sehingga dikhawatirkan jam tangan bisa rusak jika dikenakan di tangan kanan, misalnya terbentur sesuatu. Sehingga orang-orang lebih suka mengenakan jam tangannya di tangan sebelah kiri. Ada sebagian orang yang menyangka bahawa yang terbaik dan lebih utama mengenakan jam tangan di tangan sebelah kanan, mengingat terdapat dalil yang menunjukkan anjuran mengutamakan tangan kanan. Akan tetapi sangkaan ini tidaklah benar kerana terdapat hadits yang menunjukkan bahawa Nabi memasang cincinnya di jari tangan kanan. Dan terkadang beliau memasang cincinnya di jari tangan kiri. Boleh jadi mengenakan cincin dengan jari tangan kiri itu lebih utama agar tangan kanan bisa dengan mudah melepas cincin jika diperlukan.

Kembali pada masalah jam tangan, kita bisa menyamakannya dengan cincin. Sehingga tidak ada kelebihan tangan kanan ataupun tangan kiri dalam mengenakan jam tangan. Ada kelonggaran dalam masalah ini. Kita boleh mengenakan jam tangan di tangan kanan, dan boleh juga di tangan kiri. (lihat Fatwa Syaikh Ibn Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin Cetakan Dar wathan Juz 7 hal 18.

Kamis, 27 Januari 2011

Memakai Jam Tangan di Kanan (Fatwa Syaikh Al-Albani)


Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertanyaan
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Kami melihat sebagian orang memakai jam tangan di tangan kanan, dan mereka berkata bahwa yang demikian itu sunnah, ada dalilnya ?

Jawaban
Kami berpegang teguh dalam masalah ini dengan kaidah umum yang terdapat dalam hadits Aisyah di dalam Ash-Shahih, ia berkata.

“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam menyukai menggunakan (mendahulukan) kanan damam segala sesuatu, yaitu ketika bersisir, bersuci, dan dalam setiap urusan”Dan kami tambahkan dalam hal ini, hadits lain yang diriwayatkan dalam Ash-Shahih, bahawa beliau Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Yahudi tidak mencelup (menyemir) rambut-rambut mereka, karena itu berbedalah dengan mereka, dengan cara menyermir rambut kalian”.

Juga hadits yang lain yang di dalamnya terdapat perintah untuk berbeda dengan musyrikin.

Maka dari hadits-hadits tersebut dapat kami simpulkan bahawa disunnahkan bagi seorang muslim untuk bersemangat dalam membedakan diri dengan orang-orang kafir.

Dan sepatutnyalah untuk kita ingat bahawa membedakan diri dari orang kafir, mengandung arti bahawa kita dilarang mengikuti adat kebiasaan mereka. Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyerupai orang kafir, dan sudah selayaknya bagi kita untuk selalu tampil beda dengan orang-orang kafir.

Di antara adat kebiasaan orang kafir adalah memakai jam tangan di tangan kiri, padahal kita mendapatkan pintu yang teramat luas di dalam syari’at untuk menyelisihi adat ini. Walhasil mengenakan jam tangan di tangan kanan merupakan pelaksanaan kaidah umum, yaitu (mendahulukan) yang kanan [1], dan juga kaidah umum yang lain yaitu membedakan diri dengan orang-orang kafir.

[Disalin dari buku Majmu’ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarah, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Albani, Penulis Muhammad Nashiruddin Al-Albani Hafidzzhullah, Penerjemah Adni Kurniawan, Penerbit Pustaka At-Tauhid]
_________
Foote Note
[1]. Yaitu di dalam hal-hal yang baik dan mulia, sebagai pemuliaan anggota tubuh bagian kanan.

Syeikh Aidh Abdullah Al-Qarni: Takutlah pada Allah Wahai Rakyat Irak....

Syaikh Aidh Abdullah Al-Qarni, namanya sudah lekat di hati penikmat buku Islam di tanah air. Ia adalah penulis buku best seller "Laa Tahzan." Selain dikenal aktif menulis buku-buku yang mendapat sambutan luas di berbagai negara dunia, Al-Qarni juga tokoh yang dikenal memiliki pandangan moderat. Ia mengikuti perkembangan dunia Islam dalam berbagai dinamikanya. Beberapa waktu lalu, wartawan majalah Al-Mujtama’ terbitan Kuwait, mewawancarainya tentang banyak masalah termasuk masalah krisis di Irak dan Palestina. Berikut petikannya:
Ada issu bahwa belakangan Anda menghindar dari medan dakwah. Sebenarnya apa yang terjadi?

Saya memerlukan beberapa waktu untuk menata kembali bahan-bahan saya dan menenangkan diri sejenak dengan kembali ke perpustakaan saya. Sebenarnya, saya tidak meninggalkan dakwah karena dakwah merupakan kewajiban syariat yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang Muslim. Dan dakwah juga termasuk dari ibadah. Duduk di rumah tidak berarti meninggalkan atau menjauhi dakwah karena seseorang bisa melakukan dakwah melalui penulisan buku, komunikasi, atau dengan pergi ke masjid. Media massa mungkin salah paham dengan ungkapan saya. Kemudian muncul anggapan bahwa saya mengisolir diri dari dakwah. Barangkali bisa dikatakan bahwa fase ini merupakan fase istirahat bagi saya untuk tidak tampil ke permukaan. Alhamdulillah, setelah beberapa bulan kini saya sudah kembali beraktifitas sebagaimana sebelumnya, mengisi ceramah, seminar dan lainnya.
Apa pendapat Anda tentang kelompok sekuler dan ekstrim yang memainkan peran besar dalam upaya mengisolir Anda?

Di masyarakat kita ini terdapat kelompok orang yang jauh dari sikap moderat. Kelompok yang memberatkan agama sebagaimana jenis kelompok Al-Khawarij. Ini yang dialami sejumlah da’i dan penuntut ilmu lalu mereka dituduh sebagai sebab kemunculan teroris. Mereka kemudian berhadapan dengan kelompok lainnya yang mengkafirkan serta menganggap kami sebagai ulama penguasa. Mereka tidak mau berdialog dan diluruskan. Tentu saja arus moderat ini tidak disukai oleh kedua kelompok itu. Kemudian muncullah cacian, makian, cercaan yang menyakitkan orang lain betapapun kedudukan orang tersebut.
Bagaimana Anda memandang umat Islam saat ini?

Kondisi umat Islam sekarang dalam kondisi lemah baik dalam aspek politik, ilmu pengetahuan, ekonomi maupun militer. Ini realitas yang sudah diketahui. Jika kita mengakui kerancuan dan kelemahan, kita akan bisa memperoleh jalan keluar dan obatnya. Saya bukan tipe orang yang menyerah dengan keadaan lalu menutup harapan. Kami katakan kepada mereka: Tidak, masih ada harapan insya Allah dan masa depan tetap milik kaum Muslimin sebagaimana Allah swt firmankan kepada kita. Akan tetapi kapan kita bisa tulus bersama Allah? Kapan kita membina diri kita untuk tetap berada dalam kebenaran?
Umat Islam hari ini membutuhkan persatuan Islam untuk menghimpun seluruh negara dari Timur dan Barat. Kita juga menghendaki jerih payah para da’i dan ulama untuk mengajarkan agama yang benar pada masyarakat sehingga mereka mengerti tanpa ada kecenderungan ekstrim. Kita juga membutuhkan diterapkannya hukum Allah dari pihak penguasa. Umar bin Khattab memperoleh kemenangan di atas umat yang lain karena bertahkim kepada syariat Allah swt.
Kondisi kita hari ini lebih baik dari sepuluh tahun lalu. Sekarang ada fenomena masyarakat kembali kepada agama juga dengan adanya ulama besar seperti Yusuf Qardhawi. Sekarang kondisinya sudah berubah dari nasionalisme Arab pada forum-forum penyadaran dan para ulama kini sudah banyak didukung berbagai sarana dan prasarana informasi seperti internet dan pemancar televisi. Ini semua membuat kita optimis memandang masa depan. Kita hanya memerlukan beberapa waktu saja agar umat ini berjaya kembali seperti para pendahulunya.
ini?Sekarang Irak tengah dicabik-cabik oleh perang saudara yang berbasis sekte, apa pandangan Anda tentang hal

Bangsa Irak adalah bangsa mulia. Irak adalah sumber peradaban masa lalu dan wilayah berdirinya khilafah Abbasiyah serta rahim kelahiran para ulama besar. Maka kami katakan kepada rakyat Irak: Wahai para ahli berpikir dan ahli ilmu. Bersatulah di bawah kalimat Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Wahai rakyat Irak, Sunni maupun Syiah. Takutlah kepada Allah swt dalam hal pertumpahan darah, dalam pembunuhan. Saya mengkhawatirkan kondisi Irak saat ini karena mereka kini seperti berada di tepi jurang yang dalam akibat perang saudara. Jika itu terjadi akan muncul musibah besar dan penjajah AS di Irak akan terlupakan. Saya katakan kepada rakyat Irak: Takutlah kepada Allah wahai rakyat Irak. Kami berdoa kepada Allah agar menghindarkan Irak dari perang saudara dan perpecahan.
Bagaimana Anda memandang kemenangan Hamas di Palestina yang kini menghadapi tantangan berat dari berbagai penjuru dunia? Apa kewajiban umat Islam terhadap masalah ini?

Saya bergembira Hamas memimpin Palestina. Saya bersyukur karena mereka adalah para da’i, para pemikir, yang mengerti, tangan dan hati mereka bersih. Mereka juga mendapat kepercayaan rakyat Palestina. Langkah-langkah yang dilakukan Hamas adalah langkah-langkah yang telah dikaji dan muncul dari pemahaman yang dalam dari kader-kader, mereka para politisi dan pemikir. Jika pemahaman ini sudah didapat selebihnya adalah kesuksesan insya Allah. Kita lihat sampai saat ini seluruh sepakterjang Hamas selalu muncul dari syuro organisasi mereka. Karena itulah nyaris tak ada kekisruhan dan kekacauan sehingga memunculkan ketakutan musuh-musuh Islam. Musuh Islam mengira kondisi Hamas akan tidak menentu karena mereka berpendapat para pakar dan penuntut ilmu tidak becus menjalani kepemimpinan. Tapi kenyatannya justru berbalik. Mereka justru semakin mendapat kepercayaan dari rakyat Palestina.
Kaum Muslimin, jika mereka benar ingin membantu Palestina hendaknya ia mengganti kerugian rakyat Palestina dengan harta dan mendukung dengan uang karena ini adalah pilihan rakyat Palestina.
Saudara-saudara kami di Hamas tidak perlu nasihat karena mereka telah hidup secara langsung dan mengetahui kondisi mereka. Sebagian ulama beberapa waktu lalu meminta Hamas untuk lebih fleksibel, lebih memahami politik negara, cerdas dan diplomatis.
Pandangan Anda tentang demokratsi di negara-negara Arab?
Demokrasi di negara Arab adalah demokrasi palsu dan rekayasa, bukan sebenarnya. Benar-benar penguasa yang memakai baju demokrasi agar bisa beralasan di hadapan dunia dan menyesuaikan diri di hadapan Barat yang terus menerus menekan penguasa Arab untuk menerapkan demokrasi. Jadi kami melihat, di satu sisi mereka berambisi pada kekuaaan, dan disisi lain mereka mencari simpatik rakyat. Demokrasi mereka gunakan seperti obat tetapi tidak menyembuhkan penyakit, melainkan berada di tengah-tengah. Tapi saya katakan dengan tegas, bahwa demokrasi di negara Arab yang paling bersih adalah demokrasi yang terjadi di Palestina pada waktu lalu hingga memenangkan Hamas.
Jadi, apa bedanya demokrasi Barat dengan demokrasi yang diajarkan Islam?

Kita dalam Islam mempunyai sistem syuro. Dalam sumber-sumber syariat Islam tidak kita dapati batasan format pemerintahan apakah itu kerajaan, khilafah, republik atau federal. Kita juga harus berinteraksi dengan sistem demokrasi yang kini menjadi anutan masyarakat zaman ini. Karena itulah juga tidak mengatakan halal atau haram. Tidak ada pengharaman demokrasi dalam Islam.
Apa poin-poin kebangkitan umat Islam menurut Anda yang harus difokuskan saat ini?

Dalam Islam kita diajak untuk memperhatikan masalah ilmu. Tapi masalah kita adalah, umat Islam bukan umat pembaca. Dari sanalah muncul kerancuan di berbagai bidang. Perbedaan antara kita dan Barat dalam inovasi adalah dalam hal buku. Ilmu harus didukung dengan kecintaan membaca, pengkajian di berbagai forum sehingga kita percaya dengan ilmu yang kita miliki, serta yakin dengan kemampuan dan spesialisasi kita. Demikian pula, kita harus mengambil pelajaran dari orang lain.
(sumber: eramuslim.com/na-str/almjtm)